Senin, 13 Maret 2017

8 Tradisi Suku Dunia Menuju Kedewasaan Yang Sangat Ekstrim

Memasuki masa remaja ciri-ciri pada anak adalah dengan mengalami menstruasi, mimpi basah dan beberapa perubahan fisik. Atau biasa juga disebut dengan masa puber. Ada hal unik yang dilakukan oleh beberapa suku di Dunia menyambut masa remaja. Beberapa diantaranya ada yang merayakan dengan cara berpesta, tetapi ada juga yang merayakannya dengan cara yang ekstrim.

Seperti yang terjadi pada beberapa suku di Dunia ini, mereka menyambut masa remaja dengan cara yang tidak biasa. Bahkan cara ini dapat dikatakan cara yang ekstrim dan dapat membuat anda menjadi ngilu mendengarnya. Berikut dibawah ini adalah 8 ritual ekstrim menyambut keremajaan.

1. Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

 Suku Adat Satere-Mawe dengan Ritual Semut Peluru

Satere-Mawe merupakan salah satu suku yang tinggal jauh di dalam pelosok hutan Amazon dan termaksud bagian dari negeri Brazi. Suku ini memiliki ritual khusus untuk menandai masa peralihan anak laki-laki menjadi pria dewasa. Cara yang dilakukannyapun sangat ekstrim, saya yakin Anda pasti tidak ingin mengikuti ritual seperti ini. Mereka menyiapkan sebuah selongsong daun berisi semut peluru dikenakan pada bagian alat reproduksi sang anak selama 10 menit. Perlu diketahui bahwa semut peluru adalah spesies semut yang memiliki gigitan paling menyakitkan di dunia. Jika mereka dapat melewati ritual ini dengan menahan rasa sakit akibat sengatan semut peluru, tandanya ia telah cukup dewasa.

2. Suku Xhosa - Sunat

Suku Xhosa - Sunat

Umat islam mewajibkan sunat bagi para lelaki, begitu juga tradisi penanda kedewasaan di suku Xhosa, Afrika Selatan. Saat memasuki usia akil baliq, anak-anak suku Xhosa dicukur dan dibawa ke pegunungan. Mereka diisolasi sementara ahli bedah datang untuk menyunat mereka. Mereka baru boleh kembali ke rumah setelah sembuh total. Kalau di Indonesia anak kecil di sunat dengan di iming imingi hadiah heheh.

3. Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar - Lompat Sapi

Suku Hamar, Ethiophia memiliki perbedaan untuk menyambut kedewasaan. Masyarakat dari suku Hamar di Ethiophia harus melakukan ritual lompat sapi sebelum diizinkan menikah. Mereka memulai ritual ini dengan mencambuk lelaki di depan keluarga dan teman-temannya. Selanjutnya si lelaki tersebut harus melompat di atas punggung empat sapi yang dikebiri. Setelah lolos melalui ritual ini, sang pria baru diizinkan menikah. Sunggu perjuangan yang sangat berat untuk menikahi gadis suku Hamar. Kalau masyarakat Bugis, perjuangannya cukup mengumpul uang panai yang begitu tinggi heheh.

4. Suku Fula - Tato Wajah

Suku Fula - Tato Wajah

Bagi masyarakat suku Fula justru tato di wajah dianggap sebagai tanda kedewasaan. Dan ini berlaku bagi Tato para gadis perempuan yang dianggap telah dewasa, Para gadis suku Fula di Afrika Barat harus memiliki tato di wajah mereka. Tato tersebut dibuat dengan menggunakan sepotong kayu yang tajam. Dibayangkan saja pasti sangat menyakitkan. Seorang gadis yang sudah memiliki tato ini dianggap dewasa dan telah diizinkan untuk menikah.

5. Suku Masai - Berburu Singa

Suku Masai - Berburu Singa

Berburu singa?? Apa ga kebalik tuh, singa yang buru manusia? Hehe di suku Masai Masai dari Tanzania dan Kenya punya cara unik untuk menandai kedewasaan seseorang. Mereka melakukan regenerasi prajurit mereka setiap 6-10 tahun. Bakal calon prajurit ini disunat dan dipindahkan ke kamp khusus untuk diisolasi. Setelah itu mereka akan berburu singa sebagai puncak dari upacara pengesahan ini.

Namun seiring berkurangnya populasi singa pemerintah setempat mengeluarkan larangan untuk membunuh singa karena alasan perlindungan terhadap satwa ini.

6. Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Asa Gigi Khas Suku Mentawai

Yang suka ngilu giginya pasti tidak akan melakukan hal ini. Tapi jika anda merupakan bagian dari suku mentawai, anda harus melakukan ritual ini. Para gadis yang menginjak masa dewasa akan melakukan asa gigi karena dianggap memiliki nilai-nilai tradisional yang luhur tentang kecantikan. Mereka percaya bahwa jika jiwa seseorang tidak puas dengan pemampilan tubuhnya, orang tersebut akan mati. Oleh karena itu, wanita muda mempertajam gigi mereka agar tampil lebih indah dan cantik.

7. Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Suku Aborigin - Perjalan Seorang Diri

Yang dimaksud perjalanan seorang diri bukanlah para Jomblo ya, disini merupakan salah satu tradisi suku Aborigin untuk menjadi pria dewasa. Suku Aborigin, Australia, mengirim para pemuda ke padang gurun selama 6 bulan untuk menguji apakah mereka telah siap menjadi pria dewasa. Seperti bertualang, mereka harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah berhasil bertahan hidup dan melewati rintangan pada saat melakukan ujian ini, mereka kembali ke rumah dan dinyatakan telah menjadi laki-laki sejati.

8. Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Suku Sungai Sepik - Skarifikasi

Tradisi skarifikasi merupakan cara yang ekstrim, kenapa? Karena mereka membuat tatto dengan menggunakan silet yang tajam. Pola tatto yang dibuat menggunakan silet akan membuat kulit si pria menjadi seperti kulit kasa buaya. Dan ini merupakan tanda bahwa mereka sudah dianggap telah dewasa.

Sumber:

http://www.vemale.com/ragam/ragam/58979-8-ritual-dan-tradisi-menyambut-masa-dewasa-berbagai-suku-bangsa-di-dunia-unik-banget-8.html

Sabtu, 04 Maret 2017

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas tentang Sejarah dan Adat Istiadat Suku bugis Asal Sulawesi Selatan. Dan diartikel ini saya akan membahas lagi tentang kebudayaan suku Bugis, yaitu Si Gajang Laleng Lipa (Saling Tikam dalam Sarung).

Si Gajang Laleng Lipa – Tradisi Mengerikan Suku Bugis

Kenapa bisa terjadi tradisi si gajang laleng lipa? Jadi begini ceritanya. Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu atau dalam bahasa setempat adalah Siri. Dalam adat disebut bugis terdapat konsep Ade’, Siri na Passe. Ade’ adalah adat istiadat yang mesti dijunjung oleh masyarakat bugis, sedangkan Siri (malu) na Passe (rasa iba) adalah sikap yang tertuang dalam ade’ tersebut.

Pentingnya Siri dalam masyarakat Bugis sangat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, sehingga ada pepatah bugis yang menyatakan bahwa hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Naia tau de’ gaga sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau (Barang siapa yang tidak punya siri (rasa malu), maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang. Bahkan siri ini sangat berarti bagi masyarakat Bugis seperti dalam pepatah berikut “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayarannya”.

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi rasa malu, sehingga jika harga diri mereka di injak-injak maka mereka akan mempertaruhkan nyawanya. Sehingga jika ada pihak keluarga saling bertikai hingga tidak menemukan titik temu maka jalan yang diambil adalah jalan adat yakni ritual sigajang laleng lipa’ (saling tikam dalam sarung)

Sigajang laleng lipa adalah sebuah tradisi masyarakat Bugis untuk menyelesaikan sebuah masalah dan telah dilakukan pada masa kerajaan beberapa tahun yang lalu. Tradisi Sigajang Laleng Lipa dilakukan oleh dua orang yang berduel dalam satu sarung menggunakan badik/kawali (senjata tradisional masyarakat bugis). Tradisi ini dilakukan ketika ada pihak yang bertikai yang tidak bisa terselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat, walaupun nyawa jadi taruhannya. Karena ke 2 keluarga tersebut merasa benar, maka permasalahan ini harus diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa. Namun jika melakukan sigajang kedua bela pihak yang bertikai tidak harus lagi ada rasa dendam yang terpendam dan menganggap perkara sudah selesai. Hasil pertarungan dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang, sama-sama meninggal, atau keduanya sama-sama hidup.

Sigajang Laleng Lipa adalah ritual pertarungan yang cukup mematikan. Namun, kita dapat melihat makna-makna positif dari tradisi ini seperti adanya pemecahan masalah melalui musyawarah dan mufakat dan tidak menggunakan ego dalam banyak hal kalau tidak ingin ada korban jiwa.
Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini telah ditinggalkan oleh masyarakat bugis makassar dan kini tradisi Sigajang ini telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan, yang biasanya dipentaskan diatas panggung. Adapun Nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa (duel satu sarung), yang diartikan sarung sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis Makassar, berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama. Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, akan tetapi menjadi sebuah ikatan kebersamaan di antara manusia.

Itulah penjelasan singkat tentang sigajang laleng lipa. Semoga bermanfaat.


Diliput dari berbagai sumber

Rabu, 07 Desember 2016

Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

Manusia bermata Biru sering kita lihat di negara-negara Eropa, namun ternyata suku bermata biru juga terdapat di indonesia? Yang tepatnya di suku pedalaman Halmahera. Suku tersebut disebut juga dengan suku Lingon. Dari warna matanya yang biru suku ini berbeda dengan suku suku bangsa yang ada di Indonesia.

Sejarah dan Asal Usul Suku Lingon Bermata Biru Asal Halmahera

Lingon adalah sebuah suku pedalaman yang mendiami Halmahera, Provinsi Maluku Utara, Indonesia yang dikenal karena memiliki ciri fisik ras Kaukasoid yakni berkulit putih, berrambut pirang, dan bermata biru, berbeda dengan suku-suku bangsa di Indonesia lainnya yang umumnya memiliki ciri fisik berkulit coklat, bermata coklat kehitaman dan berambut hitam.

Lantaran memiliki ciri fisik ala orang bule, maka nggak heran juga kalau orang-orang Lingon itu sangat cantik dan ganteng. Menurut cerita masyarakat, orang-orang Lingon memang seperti itu. Sayangnya, masyarakat Lingon sendiri seperti tidak menyadari kelebihannya itu. Menurut cerita lagi, katanya gara-gara kecantikan luar biasa gadis-gadis Lingon, mereka pernah diculik suku lain untuk dijadikan istri. Ada kabar yang mengatakan mereka sudah punah, tapi ada yang bilang juga suku Lingon sengaja menjauh agar tidak diusik.

Asal muasal

Tidak ada ceritanya orang ras Mongoloid bisa menghasilkan keturunan Kaukasoid, kecuali ada silang kawin di antara keduanya. Dengan berbekal teori ini maka dapat disimpulkan bahwa suku Lingon bukanlah orang-orang asli sini. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti cerita dari masyarakat sekitar yang secara tersirat seakan membenarkan hal tersebut.

Cerita muasal Lingon diawali dari karamnya sebuah kapal asal Eropa di sekitar Halmahera. Kemudian karena harus bertahan hidup, orang-orang kapal ini pun akhirnya menepi dan lama-kelamaan memasuki hutan. Lantaran susahnya akses dan lain sebagainya, mereka pun tak punya pilihan selain menetap dan akhirnya membentuk koloni sendiri yang disebut Lingon. Alasan kenapa mereka jadi primitif mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di hutan. Pelan-pelan orang Lingon melupakan asal usulnya dan kemudian menyesuaikan diri.

Ciri Fisik

Suku Lingon bukanlah suku yang berasal dari ras weddoid, melanesia, polinesia, ataupun mongoloid seperti kebanyakan penduduk di Halmahera. Mereka termasuk dalam ras kaukasoid, sehingga tampilan fisik mereka lebih menyerupai orang Eropa seperti tubuh yang tinggi, kulit putih, rambut pirang, dan warna mata biru atau hijau.

Sampai saat ini, populasi suku Lingon masih belum diketahui keberadaannya. Dikatakan bahwa dahulu suku ini sering mendapatkan ancaman dari suku yang hidup di pesisir pantai, salah satunya adalah suku Togutil.

Orang dari suku Togutil kerap berusaha menculik gadis-gadis suku Lingon yang terkenal cantik dengan mata biru mereka. Beberapa suku setempat menganggap Suku Lingon berbahaya, lantaran dikenal memiliki ilmu sihir sehingga mereka juga kadang kala disegani.

Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Lingon

http://solo.tribunnews.com/2016/06/03/misteri-suku-lingon-suku-di-pedalaman-hutan-halmahera-yang-punya-ras-wanita-cantik-bermata-biru?page=4

Jumat, 02 Desember 2016

Sejarah dan Asal Usul Suku Rakhine Arakan Myanmar

Rakhine atau Arakan adalah salah satu kelompok etnis yang berada di Myanmar. Etnis ini adalah kelompok mayoritas di negara bagian Rakhine (sebelumnya negara bagian Arakan). Kemungkinan jumlah kelompok ini meliputi 5,53% dari jumlah penduduk Myanmar, namun hingga kini belum ada sensus yang akurat. Suku Rakhine juga tinggal di wilayah tenggara Bangladesh, terutama di Chittagong dan Barisal.


Sejarah dan Asal Usul Suku Rakhine Arakan Myanmar

Orang Rakhine memiliki banyak sebutan, sesuai di daerah mana mereka berada, yaitu: Arakenese, Magh, Maghi, Marma, Mash, Mogh, Morma, Mugg, Yakan dan Yakine.

Arti Kata Rakhine

Menurut Tawarikh Rakhine, Nama Rakhine ini berasal dari bahasa Pali dari kata "Rakhapura" berarti "tanah rakyat Raksasa (Raksasa/Rakha/Rakhine)", kata Rakhine berarti "seseorang yang memelihara ras sendiri."

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Rakhine. Orang Rakhine bertutur dalam bahasa Arakan, yang merupakan bentuk kuno dari bahasa Burma. Pada umumnya saling dimengerti dengan standar Burma, namun tetap memiliki style Arakan suara / r /, yang menjadi suara / j / dalam bahasa Burma. Bahasa tertulis Arakan script, pada dasarnya sama dengan script standar Burma, script Rakhawunna utara Brahmi ditemukan dalam prasasti batu di era (Wethali) Vesali, sekarang tidak lagi digunakan.

Sistem kepercayaan

Kebanyakan orang Rakhine beragama Buddha Theravada. Mereka mengklaim sebagai salah satu dari kelompok pertama yang menjadi pengikut Buddha di Asia Tenggara. Budaya Rakhine mirip dengan budaya Burma, namun lebih banyak dipengaruhi oleh budaya India akibat isolasi geografisnya dari daratan utama Burma. Pengaruh India terasa dalam sastra, musik, dan makanan Rakhine.

Sejarah

Sekelompok keturunan Rakhine, tinggal di Jalur Bukit Chittagong Bangladesh sejak abad ke-16, dikenal sebagai orang Marma. Keturunan Rakhine menyebar sejauh utara negara Tripura di India, ketika Tripura diperintah oleh raja-raja Arakan. Di timur laut India, orang-orang Rakhine disebut sebagai orang Mog

Pada beberapa abad yang lalu di Bangladesh, orang Rakhine (Arakan) adalah bajak laut yang ditakuti di Teluk Benggala, mereka meneror masyarakat di sepanjang pantai laut dan jauh di saluran sungai yang sekarang Bangladesh. Saat itu mereka disebut maghs, atau bajak laut. Nama ini menjadi nama populer dari suku ini, mereka berasal dari wilayah Arakan di Burma.

Suku Rakhine terkait erat hubungan serumpun dengan suku Bamar, Marma dan Chakma.
Menurut kronik, kerajaan independen Rakhine pertama didirikan pada tahun 3325 SM oleh Raja Marayu. Nama kerajaan tersebut adalah Dhanyawadi, yang bermakna "diberkati oleh gandum yang melimpah." Buddhisme masuk pada masa hidupnya Gautama Buddha. Menurut kronik Rakhine, Buddha sendiri mengunjungi kota Dhanyawadi pada tahun 554 SM.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Etnis_Rakhine

http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/05/suku-rakhine.html

Senin, 21 November 2016

Sejarah dan Asal Usul Rohingya di Myanmar dan Permasalahannya

Sejarah dan Asal Usul Rohingya di Myanmar. Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Burma. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang Sino-Tibet). Mereka menggunakan bahasa rohingya untuk berbicara sehari-hari.

Sejarah dan Asal Usul Rohingya di Myanmar dan Permasalahannya

Sejarah Rohingnya di Myanmar

Menurut catatan sejarah, komunitas Muslim telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun (1430–1434) di kerajaan Mrauk U. Setelah diasingkan selama 24 tahun di kesultanan Bengal, Narameikhla mendapatkan tahta di Arakan dengan bantuan dari Sultan Bengal saat itu. Kemudian ia membawa serta orang-orang Bengali untuk tinggal di Arakan dan membantu administrasi pemerintahannya demikianlah komunitas Muslim pertama terbentuk di wilayah itu.

Saat itu kerajaan Mrauk U berstatus sebagai kerajaan bawahan dari kesultanan Bengal sehingga Raja Narameikhla menggunakan gelar dalam bahasa Arab termasuk dalam nama-nama pejabat istananya dan memakai koin Bengal yang bertuliskan aksara Arab Persia pada satu sisinya dan aksara Burma pada sisi lainnya sebagai mata uangnya. Setelah berhasil melepaskan diri dari kesultanan Bengal, para raja keturunan Narameikhla tetap menggunakan gelar Arab tersebut dan menganggap diri mereka sebagai sultan serta berpakaian meniru sultan Mughal. Mereka tetap mempekerjakan orang-orang Muslim di istana dan walaupun beragama Buddha, berbagai kebiasaan Muslim dari Bengal tetap dipakai.

Pada abad ke-17 populasi Muslim meningkat karena mereka dipekerjakan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya dalam pemerintahan saja. Suku Kamein, salah satu etnis Muslim di Rakhine yang diakui pemerintah Myanmar saat ini, adalah keturunan orang-orang Muslim yang bermigrasi ke Arakan pada masa ini. Namun kerukunan dan keharmonisan ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1785 kerajaan Burma dari selatan menyerang dan menguasai Arakan; mereka menerapkan politik diskriminasi dengan mengusir dan mengeksekusi orang-orang Muslim Arakan. Pada tahun 1799 sebanyak 35.000 orang Arakan mengungsi ke wilayah Chittagong di Bengal yang saat itu dikuasai Inggris untuk mencari perlindungan. Orang-orang Arakan tersebut menyebut diri mereka sebagai Rooinga (penduduk asli Arakan), yang kemudian dieja menjadi Rohingya saat ini. Selain itu, pemerintah kerajaan Burma saat itu juga memindahkan sejumlah besar penduduk Arakan ke daerah Burma tengah sehingga membuat populasi wilayah Arakan sangat sedikit ketika Inggris menguasainya.

Pada tahun 1826 wilayah Arakan diduduki oleh pemerintah kolonial Inggris setelah perang Inggris-Burma I (1824-1826). Pemerintah Inggris menerapkan kebijakan memindahkan para petani dari wilayah yang berdekatan ke Arakan yang saat itu sudah ditinggalkan, termasuk orang-orang Rohingya yang sebelumnya mengungsi dan orang-orang Bengali asli dari Chittagong. Saat itu wilayah Arakan dimasukkan dalam daerah administrasi Bengal sehingga tidak ada batas internasional antara keduanya dan migrasi penduduk di kedua wilayah itu terjadi dengan mudah. Pada awal abad ke-19 gelombang imigrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma. Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis.

Permasalahan Imigrasi

Pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris membentuk komisi khusus yang menyelidiki masalah imigrasi di Arakan, namun sebelum komisi tersebut dapat merealisasikan hasil kerjanya, Inggris harus angkat kaki dari Arakan pada akhir Perang Dunia II. Pada masa Perang Dunia II Jepang menyerang Burma dan mengusir Inggris dari Arakan yang kemudian dikenal sebagai Rakhine. Pada masa kekosongan kekuasaan saat itu, kekerasan antara kedua kelompok suku Rakhine yang beragama Buddha dan suku Rohingya yang beragama Muslim semakin meningkat. Ditambah lagi, orang-orang Rohingya dipersenjatai oleh Inggris guna membantu Sekutu untuk mempertahankan wilayah Arakan dari pendudukan Jepang. Hal ini akhirnya diketahui oleh pemerintah Jepang yang kemudian melakukan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap orang-orang Rohingya. Selama masa ini, puluhan ribu orang Rohingya mengungsi keluar dari Arakan menuju Bengal. Kekerasan yang berlarut-larut juga memaksa ribuan orang Burma, India dan Inggris yang berada di Arakan mengungsi selama periode ini.

Pada tahun 1940-an orang-orang Rohingya berusaha menjalin kerjasama dengan Pakistan di bawah Mohammad Ali Jinnah untuk membebaskan wilayahnya dari Burma, tetapi ditolak oleh pemimpin Pakistan tersebut karena tidak mau mencampuri urusan internal negeri Burma. Pada tahun 1947 orang-orang Rohingya membentuk Partai Mujahid yang merupakan kelompok jihad untuk mendirikan negara Muslim yang merdeka di Arakan utara. Mereka menggunakan istilah Rohingya sebagai identitas politik mereka dan menyatakan diri sebagai penduduk asli Arakan. Kemudian Burma merdeka pada tahun 1948 dan orang-orang Rohingya semakin gencar melancarkan gerakan separatisnya. Pada tahun 1962 Jenderal Ne Win melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan Myanmar. Ia melakukan operasi militer untuk meredam aksi separatis Rohingya. Salah satu operasi militer yang dilancarkan pada tahun 1978 yang disebut "Operasi Raja Naga" menyebabkan lebih dari 200.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan besar-besaran. Pemerintah Bangladesh menyatakan protes atas masuknya gelombang pengungsi Rohingya ini. Pada bulan Juli 1978 setelah dimediasi oleh PBB, pemerintah Myanmar menyetujui untuk menerima para imigran Rohingya untuk kembali ke Rakhine.

Konflik Etnis Rakhine dan Rohingya

Pada tahun 1982 pemerintah Bangladesh mengamademen undang-undang kewarganegaraannya dan menyatakan Rohingya bukan warga negara Bangladesh. Sejak tahun 1990 sampai saat ini, pemerintah junta militer Myanmar masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku minoritas di Myanmar, termasuk Rohingya, Kokang dan Panthay. Para pengungsi Rohingya melaporkan mereka mengalami kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah seperti bekerja tanpa digaji dalam proyek-proyek pemerintah dan pelanggaran HAM lainnya. Pada tahun 2012 kerusuhan rasial pecah antara suku Rakhine dan Rohingya yang dipicu oleh pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine oleh para pemuda Rohingya yang disusul pembunuhan sepuluh orang pemuda Muslim dalam sebuah bus oleh orang-orang Rakhine. Menurut pemerintah Myanmar, akibat kekerasan tersebut, 78 orang tewas, 87 orang luka-luka, dan lebih dari 140.000 orang terlantar dari kedua belah pihak baik suku Rakhine maupun Rohingya. Pemerintah menerapkan jam malam dan keadaan darurat yang memungkinkan pihak militer bertindak di Rakhine. Walaupun para aktivitis LSM Rohingya menuduh bahwa pihak kepolisian dan kekuatan militer turut berperan serta dalam kekerasan dan menangkap orang-orang Rohingya, tetapi penyelidikan oleh organisasi International Crisis Group melaporkan bahwa kedua belah pihak mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pihak militer. Pada tahun 2014 pemerintah Myanmar melarang penggunaan istilah Rohingya dan mendaftarkan orang-orang Rohingya sebagai orang Bengali dalam sensus penduduk saat itu. Pada bulan Maret 2015 yang lalu pemerintah Myanmar mencabut kartu identitas penduduk bagi orang-orang Rohingya yang menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraannya dan tidak mendapatkan hak-hak politiknya. Ini menyebabkan orang-orang Rohingya mengungsi ke Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Bahasa

Rohingya (Ruáingga) adalah sebuah bahasa yang dituturkan etnis Rohingya di Arakan di Myanmar. Bahasa ini mirip dengan Bahasa Chittagonia yang digunakan di kawasan Chittagong di Bangladesh.
Dalam sejarahnya, bahasa ini telah ditulis dalam berbagai jenis aksara, termasuk alfabet Arab, Urdu, aksara Hanifi, alfabet Myanmar, dan yang terbaru, Rohingyalish, yang dibentuk dari alfabet Romawi. Naskah berbahasa Rohingya tertua yang ditulis dengan alfabet Arab berasal dari lebih dari 300 tahun lalu. Saat Negara Bagian Rakhine (Arakan) masih di bawah pemerintahan Britania Raya (1826–1948), etnis Rohingya umumnya menggunakan bahasa Inggris dan Urdu untuk komunikasi tertulis. Sejak Myanmar merdeka pada tahun 1948, segala bentuk komunikasi resmi menggunakan bahasa Myanmar.

Pada tahun 1975, sebuah jenis sistem tulis baru diciptakan menggunakan alfabet Arab; ada pula cendekiawan yang menggunakan alfabet Urdu untuk menutupi kekurangan alfabet Arab, namun keduanya tidak menghasilkan hasil yang memuaskan dan orang-orang Rohingya kesulitan membaca tulisan yang menggunakan alfabet Arab maupun Urdu.

Molana Hanif dan rekan-rekannya kemudian mengembangkan sekelompok baru huruf berorientasi kanan ke kiri yang berdasarkan alfabet Arab ditambah dengan beberapa pinjaman dari alfabet Romawi dan Myanmar, namun meskipun dianggap oleh para cendekiawan sebagai suatu perbaikan dibandingkan sistem tulis sebelumnya, tetap saja sistem baru ini dikritik karena banyak huruf yang terlalu mirip dengan huruf lainnya. Tak lama kemudian, E.M. Siddique memilih jalan baru dengan menggunakan huruf Latin untuk menulis Bahasa Rohingya. Hasilnya adalah sistem yang disebut Rohingyalish yang terdiri dari 26 huruf Romawi, lima huruf hidup beraksen, dan dua huruf Latin tambahan untuk bunyi retrofleks dan nasal.

Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Rohingya
https://id.wikipedia.org/wiki/Rohingya
http://www.kompasiana.com/mr_ded/rohingya-sebuah-tinjauan-sejarah-atas-konflik-yang-berkepanjangan_55602aa699937379578b4581

Jumat, 18 November 2016

Aramba Alat Musik Tradisional Suku Nias – Sumatera Utara

Aramba Alat musik tradisional Suku Nias – Sumatera Utara. Aramba adalah salah satu alat musik yang terbuat dari tembaga, kuningan, suasa dan nikel. Alat ini dimainkan oleh satu orang. Fungsi aramba berperan sebagai pembawa pola irama. Selain aramba ada juga beberapa alat musik tradisional dari Suku Nias antara lain Gondra, doli-doli, fondrahi, lagia dan rici-rici.

Meskipun Aramba merupakan alat musik tradisional dari Nias, tetapi sebenarnya alat ini tidak benar-benar dibuat oleh masyarakat Nias. Berdasarkan sejarah, alat musik Aramba ini adalah hasil kerajinan dari Jawa yang dibawa ke Nias dengan sistem barter.

Aramba Alat Musik Tradisional Suku Nias – Sumatera Utara

Bentuk Aramba

Aramba yang sering dipergunakan oleh masyarakat Nias dalam pelaksanaan upacara perkawinan sebanyak satu buah yang disebut aramba fatao yang ukuran garis tengahnya 40 sampai 50 cm, sedangkan aramba yang dipakai oleh ngaoto mbalugu (keturunan bangsawan) adalah aramba fatao dan aramba hongo yang ukuran garis tengahnya 60 sampai 90 cm.
Bentuk aramba bulat dengan tonjolan bulat kecil pada bagian tengahnya. Aramba biasanya digantungkan dengan seutas tali pada sebuah palang horizontal.

Bunyi

Aramba memiliki jenis bunyi Ideofon, untuk penggunaannya yaitu dengan cara dipukul dengan memakai pemukul yang khusus.

Fungsi Aramba

Aramba memiliki  fungsi khusus bagi  masyarakat masa prasejarah hingga kini. Yaitu, merupakan benda keramat, makanya diperlakukan istimewa. Fungsi gong selain sebagai alat komunikasi dalam masyarakat. Juga dipakai sebagai alat musik tradisional untuk berbagai kegiatan seperti:

1. Dalam urusan ekonomi, gong hadir saat menanam dan memanen padi
2. Selain itu juga untuk kegiatan religi, acara perkawinan, kematian, dan sebagainya.


Diliput dari berbagai sumber

Selasa, 15 November 2016

Arti Kata dan Makna Gelar Daeng Makassar

Makassar adalah Ibu Kota Sulawesi Selatan yang biasa digelari dengan kota Daeng. Tapi tahukah anda makna dari Kata Daeng? Dan siapa saja yang dapat menggunakan gelar Daeng tersebut?. Hal ini akan kita bahas disini, so silahkan simak ulasannya dibawah ini:

Arti Kata Daeng

Sebenarnya ada dua arti kata “daeng”, yaitu pertama sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan kata “mas” bagi orang Jawa atau ”akang” bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja, karena “daeng” memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua, dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

Kata “daeng” yang kedua atau lebih spesifik adalah bagian dari paddaengang. Dalam tradisi suku Makassar, paddaengang merupakan bagian penting. Istilah lainnya adalah areng alusu’ atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar, biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang di belakang nama aslinya. Contohnya seperti nama asli Muhammad Irwan, tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang, yaitu Daeng Rewa. Jadilah nama lengkapnya Muhammad Irwan Daeng Rewa.

Menurut komentar A. Firdaus Mananring dalam artikel http://hellomakassar.com/mengenal-daeng-dalam-tradisi-bugis-makassar/ ia mengatakan bahwa Mungkin bisa di bedakan antara Paddaengang, dengan panggilan Daeng untuk penghormatan kepada seseorang yg lebih tua, Untuk Paddaengang Jelas ini adalah Gelar Tu Baji’ atau tu Ruayya arenna untuk orang-orang khususnya suku makassar, hanya mereka yg keturunan Daeng lah yg berhak menyematkan gelar tersebut kepada keturunannya kelak, sangat melanggar aturan adat jika misalnya saya, “Firdaus” yg hanya mempunyai 1 nama saja, kemudian memberi paddaengang kepada anak saya kelak, jelas nantinya akan di tertawakan karena melanggar adat kita, “nakana tu towayya riolo, Bassungki punna taenan nasiratang”

Paddaengang biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa doa atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan. Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang dulu dilakukan dengan upacara khusus. Namun belakangan seiring perjalanan zaman, paddaengang itu disematkan begitu saja tanpa ada upacara khusus.

Bagi orang Makassar, setelah resmi menyandang nama paddaengang, maka yang bersangkutan sudah masuk masa akhil baliq, maka wajib hukumnya bagi orang-orang di sekitarnya apalagi yang lebih muda dari yang bersangkutan untuk memanggil dengan nama paddaengang-nya. Memanggil orang tersebut bukan dengan paddaengang-nya akan dianggap tidak sopan, karena paddaengang adalah nama halus dari yang bersangkutan.

Makna Gelar Daeng

Gelar “DAENG” pada hakikatnya tidak didapatkan begitu saja melainkan mengandung makna yang beragam. maknanya antara lain:
  1. Penghambaan dari nama Allah, kurang lebih sama dengan nama Islam yang ditambahi dengan Abdul. Misalnya Daeng Patoto. Patoto dalam lontara artinya pencipta, sehingga Daeng Patoto adalah hamba dari yang maha pencipta. Daeng Tanicalla, artinya tak tercela. Yang tak tercela hanyalah Allah SWT. Daeng Manaba, yang artinya penyayang, hamba dari yang maha penyayang;
  2. Berasal dari kata benda Makassar “pakdoangang” dari akar kata “doa” dan harapan. Ada beberapa “pakadengang” yang dapat masuk dalam kategori ini, misalnya:, Daeng Bau, agar yang bersangkutan memberikan nama harum bagi keluarga dan masyarakatnya. Daeng Nisokna, yang diimpikan, yang dicita-citakan. Daeng Gemilang, agar tampil lebih gemilang. Daeng Nikeknang, agar selalu dikenang. Daeng Kanang agar ia cantik, Daeng Baji agar dia baik hati, Daeng Puji agar dia menyenangkan;
  3. Penegasan bahwa dia juga adalah golongan bangsawan: Daeng Memang, artinya dia memang “daeng”, Daeng Tonji, yang artinya, diapun “daeng”. Daeng Tommi,yang artinya sebelumnya dia bukan daeng tetapi sekarang diapun sudah “daeng”. Daeng Tadaeng artinya, “daeng” atau bukan, baginya sama saja;
  4. Panutan , yang diambil dari nama tokoh yang sukses karena kejujurannya atau keberaniannya atau kepintarannya, dan atau kekayaannya, tanpa terlalu memperhatikan makna dari “pakdaengang” itu.

Strata Sosial

Pada dasarnya dulu di Makassar terdiri atas 3 strata sosial yaitu:

1. Karaeng (Raja atau Bangsawan)
2. Daeng (Kalangan pengusaha, shah bandar)
3. Ata (Budak)

Pada stata tersebut dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja dan kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng berhak mendapat paddaengang, sementara pada Ata tidak.

Gelar Sultan Hasanuddin

Arti Kata dan Makna Gelar Daeng Makassar

Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang, yaitu Daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan, sehingga nama aslinya menjadi I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangkana. I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah.

Sumber referensi:
http://www.kaskus.co.id/thread/5424bf71a2cb17e84c8b4571/info-rahasia-dibalik-makna-kata-daeng/

http://www.rappang.com/2010/02/arti-daeng-dalam-kebudayaan-bugis.html